Erick Thohir: Ahok Komut Pertamina

Togel Online Terbaik , Agen Togel Terpercaya , Bandar Togel Terbaik
Erick Thohir: Ahok Komut Pertamina

Erick Thohir: Ahok Komut Pertamina

Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan Basuki Thaja Purnama atau Ahok resmi menjadi Komisaris Utama PT Pertamina (persero).

Togel Singapura – Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan Basuki Thaja Purnama atau Ahok resmi menjadi Komisaris Utama PT Pertamina (persero).

“InsyaAllah sudah putus dari beliau, pak Basuki akan jadi Komut Pertamina,” kata Erick di Istana Negara, Jakarta, Jumat (22/11).

Sementara itu, Budi Gunadi Sadikin akan menjadi Wakil Komisaris Utama Pertamina dan Emma Sri Martini menjadi Direktur Keuangan Pertamina.

Budi Gunadi saat ini menjabat sebagai Wakil menteri BUMN dan Emma Sri menjabat sebagai Dirut Telkomsel.

Judi Poker Online

Banyak yang berharap kelak Ahok bisa menyikat maling-maling dan membasmi mafia migas. Selama ini, teatrikal Ahok di panggung politik memang cukup menghibur bagi sebagian besar orang.

Terutama, keberaniannya dalam menegakkan pemerintahan yang bersih. Dirinya tak segan memarahi pejabat yang tak becus. Sikap tegas Ahok jadi mimpi buruk bagi bawahannya yang tak kompeten, baik tak kompeten secara manajerial maupun moral.

Erick Thohir: Ahok Komut Pertamina

Ketika kisah hidup Ahok diangkat ke layar lebar, lantas jadi perayaan untuk penggemar setianya. Di pemerintahan, Ahok memang belum sejajar dengan Jokowi. Namun, di ranah sinematik, bisa dibilang Ahok lebih punya pamor ketimbang presiden itu sendiri. Jokowi sudah dibuatkan dua film biopik, tapi jumlah penonton kedua film tersebut digabung jadi satu pun masih kalah jauh bila dibandingkan dengan satu saja film Ahok.

Mungkin alasan tidak moncernya penjualan tiket film Jokowi karena dua-duanya diproduseri oleh KK Dheeraj. Selama ini, KK Dheeraj terkenal karena memproduksi film-film horor komedi seperti ‘Mr. Bean Kesurupan Depe’ dan ‘Genderuwo’. Ketika bikin film tentang public figure, penggemarnya jadi keheranan dan bingung mau nonton atau tidak. Akibatnya, terjadilah kegalauan pasar.

Mungkin untuk merangkul penikmat setia film KK Dheeraj dan pengagum Jokowi sendiri, bisa dibuatkan fan service (layanan penggemar) di filmnya. Politik di-mix dengan horor. Misal, ketika Jokowi jadi gubernur DKI blusukan masuk gorong-gorong, jump scare, muncul Genderuwo.

Saat itu, film biopik Basuki Tjahaja Purnama tayang bersamaan dengan film biopik putri Amien Rais, yaitu Hanum & Rangga (Ini Bukan Cinta & Rangga). Dua film tersebut perang di bioskop dan media sosial karena dikait-kaitkan dengan rivalitas dua kubu di ranah politik yang saat itu sedang panas-panasnya: Teman Ahok vs Alumni 212.

Pemenang dari pertempuran tersebut pun akhirnya terlihat. ‘A Man Called Ahok’ mencapai sejuta penonton di saat ‘Hanum & Rangga’ masih merangkak di angka 300 ribuan penonton.

Hal ini nggak bikin kaget-kaget amat apabila mengingat sepak terjang Teman Ahok yang solid. Sebelumnya Teman Ahok telah sukses kumpulkan sejuta KTP untuk Ahok maju jadi cagub independen di pilkada Ibu Kota. Walaupun akhirnya Ahok memilih jalur parpol (sudah begitu kalah oleh pasangan Anies-Sandi), tapi kekuatan basis penggemar Ahok telah teruji militansinya. Begitu pula tatkala Ahok bikin channel Youtube, tak butuh waktu lama untuknya dapat sejuta subscribers dan dianugerahi gold play button.

Kalau pakai rumus hitung-hitungan yang sama, harusnya penonton ‘Hanum & Rangga’ bisa mencapai 7 juta penonton. Sama seperti jumlah pengikut aksi damai di Monas. Nasib serupa pun dialami oleh film yang jelas-jelas menceritakan ulang aksi tersebut, yaitu ‘212: The Power of Love’, yang harus gulung layar sebelum meraup jumlah penonton yang sama dengan jumlah alumninya. Untuk mendapatkan jumlah penonton yang sama, apakah filmnya harus ditayangkan di Monas juga saat reuni?

Alih-alih menceritakan sebab-akibat dari Aksi Damai 212 melalui sudut pandang Ahok, film ‘A Man Called Ahok’ justru menceritakan seorang tauke dermawan di Bumi Laskar Pelangi (Pulau Belitung) yang tak lain adalah ayahnya Ahok. Namanya Kim Nam alias Indra Tjahaja Purnama, bapak beranak banyak yang selalu menyempatkan diri untuk menolong tetangga yang datang ke rumahnya.

Kim Nam tegas menepis stereotip china pelit karena punya prinsip, “Mana ada orang jadi miskin karena berbagi.” Kepercayaan itu sudah melekat pada dirinya bahkan sebelum Ustaz Yusuf Mansur merilis buku Keajaiban Sedekah.

Sejak kecil, Ahok dididik oleh ayahnya untuk jujur dan berani kalau memang benar. Bahkan di satu kesempatan, Kim Nam menyuruh anaknya yang masih belia untuk memecat pekerja proyek yang kedapatan main curang makan aspal.

“Besok Bapak nggak usah kerja di sini lagi,” ucap Ahok kecil kepada pekerja korup. Yang nantinya kalimat tersebut bakalan diucapkan berulang kali untuk memecat anak buahnya di Pemprov DKI Jakarta. Ahok sudah belajar pecat orang sejak usia dini. Jangan heran kalau sekarang beliau fasih banget.

Jadi, waspadalah, wahai insan Pertamina (atau BUMN manapun yang nantinya dipegang Ahok). Kalau masih berani macam-macam, bersiaplah di-‘rumah’-kan oleh Ahok. Minimal, disemprot pakai makian, “BUMN untuk Negeri. Bukan untuk nenek lu!”

Poker Online
Bandar Togel Terbaik | Agen Togel Terpercaya | Togel Online Terpercaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *